Pentingnya memperbagus bacaan Al-Qur'an dengan kaidah-kaidah tajwidnya

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh 
Alhamdulillahirobbilalamin segala puji bagi Allah SWT Tuhan yang mahakuasa dan semoga shalawat selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW kepada keluarga, sahabat, serta kita umatnya sampai akhir zaman nanti. Didalam web ini akan dijelaskan tentang pentingnya memperbagus bacaan Al-Qur'an dalam perkumpulan Majelis Pelajar Pasundan kelas 11 yang diisi oleh Ust. Teteng di SMK PASUNDAN RANCAEKEK. Siapa yang tidak kenal dengan Al-Qur'an semua orang pasti tahu apa itu Al-Qur'an. Ya Al-Qur'an adalah  kitab suci umat islam yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Tapi apakah kita tahu bagaimana cara membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar? Apakah kita bisa membaca Al-Qur'an dengan mengetahui tajwid? Jangan pernah menyepelekan bacaan Al-Qur'an. 

Membaca Al-Qur'an itu dengan suara yang merdu,indah, tetapi harus sesuai dengan kaidah tajwidnya. Sesuai dalam hadist berikut yaitu :
Hadist dari al-Barra bin Azib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan,
زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ
Hiasilah al-Quran dengan suara kalian. (HR. Ahmad 18994, Nasai 1024, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)
Kemudian, hadist dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ
Siapa yang tidak memperindah suaranya ketika membaca al-Quran, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Abu Daud 1469, Ahmad 1512 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
Ada beberapa keteragan yang disampaikan para ulama tentang makna ‘yataghanna bil qur’an’. Diantaranya adalah memperindah bacaan al-Quran. Karena itu, di hadist di atas dijadikan dalil anjuran memperbagus suara ketika membaca al-Quran.
Imam an-Nawawi mengatakan,
أجمع العلماء رضي الله عنهم من السلف والخلف من الصحابة والتابعين ومن بعدهم من علماء الأمصار أئمة المسلمين على استحباب تحسين الصوت بالقرآن
Para ulama salaf maupun generasi setelahnya, di kalangan para sahabat maupun tabiin, dan para ulama dari berbagai negeri mereka sepakat dianjurkannya memperindah bacaan al-Quran. (at-Tibyan, halaman. 109). 
Dari beberapa hadist diatas disebutkan bahwa memperbagus bacaan Al-Qur'an itu sangat penting .Bahkan dikisahkan seorang khalifah yaitu Umar Bin Khattab yang masuk islam setelah mendengar bacaan ayat suci Al-Qur,an  yang sangat merdu. Kisahnya berawal ketika Umar hendak datang menemui Rasul untuk membunuhnya. Kemarahannya begitu memuncak ketika tahu banyak dari kaumnya yang justru mengikuti agama yang dibawa Rasulullah. Nafsunya untuk membunuh Muhammad SAW ini juga dilakukan demi menghilangkan beban yang dipikul kaum Quraisy akibat sepak terjang Nabi saw dalam menyiarkan Islam.

Umar meninggalkan rumah dengan membawa sebilas pedang menuju Dar al Arqam, yakni rumah Arqam bin Abi al Arqam, yang sering dijadikan tempat berkumpul Nabi dan sahabatnya menunaikan salat. 

Namun alangkah terkejutnya Ia, karena dalam perjalanannya Umar justru mendengar kabar bahwa sang adik, Fatimah dan suaminya sudah memeluk Islam. Adalah Nu’aim bin Abdullah yang memberitahukan informasi tersebut.

“Demi Allah, engkau menipu dirimu sendiri, wahai Umar ! tidakkah engkau berpikir bahwa bani Abdul Manaf akan membiarkanmu tetap hidup setelah engkau membunuh putra mereka, Muhammad? mengapa engkau tidak segera kembali ke rumahmu dan memperbaiki rumahmu sendiri, saudara perempuanmu, Fatimah, beserta suaminya telah memeluk agama Muhammad ?

Mendengar ini Umar laksana tersambar petir. Ia berbalik arah untuk kembali menuju rumah adiknya. Ketika Umar sampai di rumah adik perempuannya, Fatimah dibawah bimbingan Khabab, sang suami sedang mempelajari Surat Thaha. Surat inilah yang membuat Umar jatuh cinta dan memutuskan untuk memeluk Islam. Ia mendengarkan dengan seksama isi surat tersebut.

Ia kemudian masuk kerumah dan mempertanyakan kebenaran tentang kabar mereka masuk Islam. Iparnya, Khabab pun menjawab dan menyebabkan kemarahan Umar.

"Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran itu bukan berada pada agamamu?" 

Kalimat ini kemudian Umar begitu marah sehingga menendang Khabab hingga tersungkur. Fatimah kemudian mencoba membangunkan suaminya namun justru kena tamparan umar sehingga darah menetes dari bibirnya.

Maka berkatalah Fatimah kepada Umar dengan penuh amarah: “Wahai Umar, jika kebenaran bukan terdapat pada agamamu, maka aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah”.

Umar ingin kembali menamparnya, namun tidak tega karena melihat tetesan darah sang adik. Kemudian Umar mulai melunak dan meminta agar Fatimah memberitahukan apa yang dibacanya tadi.

"Berikan kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku ingin membacanya.' Maka adik perempuannya berkata," Kamu itu kotor. Tidak boleh menyentuh kitab itu kecuali orang yang bersuci. Mandilah terlebih dahulu!" lantas Umar bin Khattab mandi dan mengambil kitab yang ada pada adik perempuannya.

Ia pun membaca hingga ayat ke 14 yang pada artinya: "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku."

Seketika itu dia memuji dan muliakan isinya, kemudian Umar minta ditunjukkan keberadaan Rasulullah. Umar kemudian memutuskan untuk kembali ke Dar al Arqam namun tetap membawa pedangnya. Sampai di rumah Arqam, kehadiran Umar sontak saja membuat seisi ruangan cemas. Terlebih dengan wajah bengis Umar yang disertai pedangnya tersebut.

Seketika Umar bergegas kembali menuju Dar al Arqam dengan tetap membawa pedangnya. Setibanya disana dia mengetuk pintu. Mereka yang ada di tempat itu kontan saja kaget dan gelisah melihat Umar membawa pedangnya yang telah terhunus.

Namun Hamzah yang juga hadir di tempat itu meyakinkan mereka seraya mengatakan bahwa jika Umar datang membawa kebaikan, kita sambut. Tapi jika Umar datang membawa keburukan, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri. Rasulullah SAW memberi isyarat agar Hamzah menemui Umar.

Lalu Hamzah segera menemui Umar, dan membawanya menemui Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW memegang baju dan gagang pedangnya, lalu ditariknya dengan keras, seraya berkata : “Engkau wahai Umar, akankah engkau terus begini hingga kehinaan dan adzab Allah diturunakan kepadamu sebagaimana yang dialami oleh Walid bin Mughirah ?"

Maka berkatalah Umar : “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah, dan Engkau adalah Rasulullah. Kesaksian Umar tersebut disambut gema takbir oleh orang-orang yang berada di dalam rumah saat itu, hingga suaranya terdengar ke Masjidil Haram.

Sontak saja keputusan Umar untuk memeluk Islam membuat seisi Mekkah langsung gempar. Mengingat dialah orang yang begitu keras menentang Islam namun kini justru menjadi pengikut setia.

Begitulah Allah, dengan mudahnya Dia membolak-balikan hati manusia. Sesuai dengan kehendak-Nya, sesuai dengan yang dipilih-Nya. Bahkan dengan cara-cara yang mudah dan tidak masuk akal. Termasuk dengan sebuah surat At Thoha. Itulah kisah sang khalifah Umar Bin Khattab, mungkin sekian dari artikel ini. Semoga bermanfaat bagi para pembaca, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.


Galeri perkumpulan Majelis Pelajar Pasundan tanggal 13-9-2018
Pemateri : Ust. Teteng 
MC : Kang Adit 
Tilawah : Kang Reza 

Kultum : Kang Untung 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masa muda yang harus kau pertanggungjawabkan dan keutamaan puasa Asyura

Khataman Al-Quran SMK PASRAN